syariah-islam.com

media seputar Syariah Islam

email : admin@syariah-islam.com

 

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ (تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

Dari Ali bin Abi Thalib RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Aku telah meninggalkan di tengah kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh dengan keduanya niscaya kalian tidak akan pernah tersesat. Kedua perkara itu adalah kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik dalam Al-Muwatha’ no. 3338 dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 319, dengan sanad hasan)

 

Ilmu Falak B Bag. 2

Written by Administrator. Posted in Ilmu Falak

Written by Administrator. Hits: 712Posted in Ilmu Falak

Download PDF

ILMU FALAK

Oleh Rasyid Rizani, S.HI., M.HI

 

SISTEM DAN ALIRAN PENENTUAN AWAL BULAN QAMARIYAH

  1. Sistem Ru’yah Bil Fi’li

Yaitu usaha melihat hilal dengan mata telanjang pada saat matahari terbenam pada tanggal 29 bulan Qamariyah.

Kalau hilal terlihat pada malam itu dan keesokan harinya ditetapkan sebagai tanggal 1 bulan baru. Sedangkan kalau hilal tidak berhasil dilihat, maka tanggal 1 bulan baru ditetapkan jatuh pada malam hari berikutnya. Bilangan harinya menajdi 30 hari atau diistikmalkan.

  1. Sistem Hisab

Yaitu penentuan awal bulan Qamariyah yang didasarkan pada perhitungan peredaran bulan mengelilingi bumi. Sistem ini dapat menetapkan awal bulan jauh sebelumnya sebab tidak tergantung kepada melihat hilal.

Ada 2 jenis hilal yang dipergunakan dalam menentukan bulan Qamariyah Islam.

  1. Hisab urfi

Yaitu suatu metode perhitungan penanggalan yang didasarkan pada peredaran rata-rata bulan mengelilingi bumi dan ditetapkan secara konvensional yang mempunyai aturan yang tetap,[1] yaitu :

Muharram              30 hari

Shafar                    29 hari

Rabi’ul awal          30 hari

Rabi’ul akhir         29 hari

Jumadil awal         30 hari

Jumadil akhir        29 hari

Rajab                     30 hari

Sya’ban                 29 hari

Ramadhan             30 hari

Syawwal               29 hari

Dzulqa’dah           30 hari

Dzulhijjah              29 hari

Untuk tahun kabisat yang terjadi 11 kali setiap 30 tahun bulan Dzulhijjah dihitung 30 hari.

Tahun-tahun kabisat terjadi pada tahun 2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26, 29.

كف الخليل كفه ديانه عن كل خل حبه فصانه

Tiap kalimat yang bertitik melambangkan tahun kabisat.

Hisab ini dinamakan dengan hisab urfi karena kegiatan perhitungannya dilandaskan kepada kaidah-kaidah yang bersifat tradisional, yaitu dibuatnya anggaran-anggaran dalam perhitungan maksudnya awal bulan itu dengan anggaran-anggaran yang didasarkan pada peredaran bulan.[2]

Metode hisab ini tidak dapat dipergunakan dalam menentukan awal bulan Qamariyah untuk pelaksanaan ibadah (awal dan akhir Ramadhan), sebab menurut metode ini umur bulan Sya’ban dan Ramadhan adalah tetap yaitu 29 hari untuk Sya’ban dan 30 hari untuk Ramadhan.

Metode ini sangat baik dipergunakan dalam penyusunan kalender, sebab perubahan jumlah hari tiap bulan dan tahun adalah tetap dan beraturan, sehingga penetapan jauh ke depan dan ke belakang dapat diperhitungkan dengan mudah tanpa melihat data peredaran bulan dan matahari yang sebenarnya.

  1. Hisab hakiki

Yaitu hitungan yang sebenarnya, artinya hitungan yang berdasarkan peredaran matahari dan bulan yang sebenar-benarnya dan setepat-tepatnya.[3].

Menurut sistem ini umur tiap bulan tidak tetap dan juga tidak beraturan. Kadang-kadang bisa 29 hari berturut-turut dan bisa juga 30 hari berturut-turut.

Dalam praktek sistem hitungan ini mempergunakan data sebenarnya dari peredaran bulan dan bumi dan kaidah-kaidah ilmu ukur setgitiga bola.

Metode hisab ini dianggap lebih sesuai dengan yang dimaksud oleh syara’. Sebab dalam prakteknya, metode ini memperhitungkan kapan hilal akan muncul / wujud. Sehingga metode hisab inilah yang dipergunakan orang dalam menentukan awal bulan yang ada kaitannya dengan pelaksanaan ibadah.

Jika diuraikan maka terdapat 6 golongan :

  • Golongan yang berpedoman kepada ijtima’ qabla qurub.
  • Golongan yang berpedoman kepada ijtima’ qabla fajri.
  • Golongan yang berpedoman kepada posisi hilal di atas ufuk hakiki.
  • Golongan yang berpedoman kepada posisi hilal di atas ufuk hissi.
  • Golongan yang berpedoman kepada posisi hilal di atas ufuk mar’i.
  • Golongan yang berpedoman kepada posisi hilal yang mungkin dapat dirukyat / imkanur rukyat.

Namun pada garis besarnya terbagi 2, yaitu :

  • Berpedoman kepada ijtima’.
  • Berpedoman pada posisi hilal di atas ufuk pada saat matahari terbenam.

 

[1] Badan Hisab Rukyat Departemen Agama, Pedoman Perhitungan Awal Bulan Qamariyah, (Jakarta: Proyek Pembinaan Administrasi Hukum dan Peradilan Agama, 1983), h. 7

[2] Badan Hisab Rukyah Departemen Agama, Almanak Hisab Rukyah, (Jakarta: Proyek Pembinaan Administrasi Hukum dan Peradilan Agama, 1981), h. 37.

[3] Muhammad Wardan, Hisab ‘Urfi dan Hakiki, (Yogyakarta: Siaran, 1957), h. 32.

Users
1
Articles
19
Articles View Hits
17908